Main Article Content

Abstract

Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman membuat kedudukan petani di Indonesia semakin dikesampingkan. Ancaman hama, kurangnya perhatian pemerintah, dan lemahnya daya saing harga di pasaran membuat kondisi semakin sulit. Dalam kondisi ini, masyarakat Desa Koto Padang yang berprofesi sebagai petani tetap menggunakan dan mempertahankan tradisi membuat mpouk, membuat ncaih, dan na’a beneih untuk bertahan hidup sehingga tercipta kearifan lokal. Permasalahannya adalah: 1) Nilai-nilai apa saja yang dapat dipetik dari tradisi masyarakat petani di Desa Koto Padang? 2) Bagaimana kearifan lokal tersebut bisa tetap dilestarikan? Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri dan melihat lebih mendalam kearifan lokal yang dipraktikkan para petani dalam mengelola sawahnya di Desa Koto Padang. Berdasarkan sifat, artikel ini merupakan penelitian lapangan (field research). Penelitian ini dilakukan di Desa Koto Padang, Kecamatan Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bekerja sebagai petani. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan kearifan lokal di Desa Koto Padang (mpouk, ncaih, dan na’a beneih) membantu masyarakat dalam menghadapi berbagai macam persoalan yang muncul dalam bersawah. Oleh karena itu, kearifan lokal perlu dijaga dan diterapkan secara terus-menerus supaya tidak menghilang ataupun dilupakan oleh masyarakat.


Technological advances and times have made the position of farmers in Indonesia increasingly sidelined. The threat of pests, lack of government attention, and weak price competitiveness in the market have made conditions even worst. In this condition, people of Koto Padang who work as farmers continue to use and maintain the tradition of making mpouk, ncaih, and na’a beneih to survive, so the local wisdom was created.. This creates a local wisdom. The problems in this paper are: 1) What values can be learned from the traditions of farmers in Koto Padang Village? 2) How can the local wisdom be preserved? This paper aims to explore and see more deeply the local wisdom practiced by farmers in managing their rice fields in Koto Padang Village. This research is categorized as a field research. A data presentation was done in a descriptive narrative. This research was conducted in Koto Padang Village, Tanah Kampung District, Sungai Penuh Municipality, Province of Jambi. The informants in this study were people who work as farmers. Data collection techniques in this study were observation, interviews, and documentation. The data analysis techniques used were data reduction, data presentation, and concluding. The results show that the local wisdom in Koto Padang Village (mpouk, ncaih, and na’a beneih) is very helpful for the community in dealing with various kinds of problems that exist in managing rice fields. Local wisdom must be maintained and applied continuously so that it does not disappear or be forgotten by the community.

Keywords

mpouk ncaih na'a beneih Desa Koto Padang kota padang Village

Article Details

References

  1. Abdurahman, Dudung. (2007). Metode Penelitian Sejarah. Logos Wacana Ilmu.
  2. Affandy, Sulpi. (2017). Penanaman Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Meningkatkan Perilaku Keberagamaan Peserta Didik. Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal, 2(2), 192–207. https://doi.org/10.15575/ath.v2i2.3391.
  3. Badan Pusat Statistik Kota Sungai Penuh. (2020). Kecamatan Tanah Kampung dalam Angka 2020. Sungai Penuh: Badan Pusat Statistik
  4. Badan Pusat Statistik RI. (2018). Keadaan Ketenagakerjaan Di Indonesia 2018. Badan Pusat Statistik, 92: 1–16. https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/11/05/1485/agustus-2018--tingkat-pengangguran-terbuka--tpt--sebesar-5-34-persen.html.
  5. Daniah. (2016). Kearifan Lokal (Local Wisdom) Sebagai Basis Pendidikan Karakter. PIONIR: Jurnal Pendidikan, 5(2). https://doi.org/10.22373/pjp.v5i2.3356.
  6. Deny, Septian. (2018, Juli 10). Penggunaan Pestisida Berlebih Ancam Ketahanan Pangan RI. Liputan6.com. https://www.liputan6.com/bisnis/read/3584542/penggunaan-pestisida-berlebih-ancam-ketahanan-pangan-ri.
  7. Fajarini, Ulfah. (2014). Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter. SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 1(2), 123–30. https://doi.org/10.15408/sd.v1i2.1225.
  8. Miles, Matthew B., and A. Michael Huberman. (1984). Qualitative Data Analysis (a Source Book of New Methods). Sage Publications.
  9. Mujahidin, Akhmad. (2017). Peranan Kearifan Lokal (Local Wisdom) Dalam Pengembangan Ekonomi Dan Perbankan Syariah Di Indonesia. JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah), 15(2), 153–68. https://doi.org/10.31958/juris.v15i2.496.
  10. Njatrijani, Rinitami. (2018). Kearifan Lokal Dalam Perspektif Budaya Kota Semarang. Gema Keadilan, 5(1), 16–31. https://doi.org/10.14710/gk.5.1.16-31.
  11. Pattinama, Marcus J. (2009). Pengentasan Kemiskinan Dengan Kearifan Lokal (Studi Kasus Di Pulau Buru-Maluku Dan Surade-Jawa Barat). Makara, Sosial Humaniora, 13(1), 1–12. http://lib.ui.ac.id/detail?id=20441682&lokasi=lokal.
  12. Prayogi, Ryan, dan Endang Danial. (2016). Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Pada Suku Bonai Sebagai Civic Culture Di Kecamatan Bonai Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Humanika, 23(1), 61–79. https://doi.org/10.14710/humanika.23.1.61-79
  13. Rahman, Fatchor. (2017). Menimbang Sejarah Sebagai Landasan Kajian Ilmiah; Sebuah Wacana Pemikiran Dalam Metode Ilmiah. El-Banat: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam, 7(1), 128–50. http://ejournal.kopertais4.or.id/susi/index.php/elbanat/article/view/2924.
  14. Rahyono, F. X. (2009). Kearifan Budaya Dalam Kata. Wedatama Widyasastra.
  15. Ridwan, Nurma Ali. (2007). Landasan Keilmuan Kearifan Lokal. Jurnal Studi Islam Dan Budaya, 5(1), 27–38.
  16. Rohmah, Nihayatur. (2015). Akulturasi Islam Dan Budaya Lokal (Memahami Nilai-Nilai Ritual Maulid Nabi Di Pekalongan). Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam Dan Sosial, 9(2), 1–19. https://ejournal.iaingawi.ac.id/index.php/almabsut/article/view/70.
  17. Sari, Deni Fatma. (2014). Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Melestarikan Batang Aie Lunang Di Kenagarian Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal Spasial, 2(1), 32–42. https://doi.org/10.22202/js.v2i1.1585.
  18. Setiadi, Kusno. (2019). Pengaruh Kearifan Lokal Dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Perilaku Peserta Didik. Jurnal Ilmiah AL-Jauhari: Jurnal Studi Islam Dan Interdisipliner, 4(1), 126–51. https://doi.org/10.30603/jiaj.v4i1.850.
  19. Subagyo, Subagyo. (2012). Pengembangan Nilai Dan Tradisi Gotong Royong Dalam Bingkai Konservasi Nilai Budaya. Indonesian Journal of Conservation, 1(1), 61–68. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/ijc/article/view/2065.
  20. Suhartini. (2009). Kajian Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan Dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 206–18. http://eprints.uny.ac.id/12149/.
  21. Taslin dan Muhammad Yusuf. (2017). Nilai-Nilai Gotong Royong Dalam Pembangunan Desa Pada Masyarakat Siompu (Studi Di Desa Karae Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan). Selami IPS, 2(46), 152–63. http://ojs.uho.ac.id/index.php/selami/article/view/8520
  22. Witro, Doli. (2019). Praktek Jual Beli Parang Dengan Cara Penumpukan Untuk Meningkatkan Harga Di Desa Koto Padang Perspektif Hukum Islam. Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum, 17(1), 34–40. https://doi.org/10.32694/010710.