Main Article Content

Abstract

Jurnal Kebudayaan Volume 16, Nomor 2, tahun 2021 ini menyajikan enam artikel dari beberapa hasil penelitian, kajian, dan pemikiran. Topik budaya diangkat juga bervariasi, mulai dari pendidikan inklusif pada masyarakat adat, sejarah lokal, komunitas seni tari, pendidikan non formal, seni pertunjukan wayang, hingga penyajian museum daerah.  Adapun gambaran singkat dari artikel-artikel tersebut adalah sebagai berikut. Diawali dari artikel Sugih Biantoro dan Budiana Setiawan menyampaikan kajian tentang pendidikan inklusif bagi anak-anak masyarakat adat, yang hidup di daerah yang sulit diakses. Hasil kajian mereka menunjukkan bahwa terdapat empat model pendidikan pada masyarakat adat di Indonesia, yakni: konservatif, transformasi, integrasi, dan komplemen. Dalam hal ini para sukarelawan LSM berperan penting untuk mengarahkan paradigma pendidikan yang dibangun sesuai dengan karakteristik geografis, sosial, dan budaya di daerah masing-masing.


Penulis berikutnya, Agustinus J. E. Mawara, mengkaji tentang pelabuhan kuno di Pulau Miwara, di Teluk Triton, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Aktivitas perdagangan pada masa itu meninggalkan jejak berupa terjalinnya hubungan kekerabatan dengan orang-orang Seram karena perkawinan dan terjadinya akulturasi budaya.


Artikel berikutnya, Dalatina Peloggia Gustianingsih, memaparkan hasil penelitiannya pada Komunitas Semesta Tari di di Nuart Sculpture Park, Bandung. Ia menyatakan bahwa dalam komunitas tersebut ada usaha penyadaran atau conscientization pada praktik site-specific performance Semesta Tari. Upaya penyadaran yang dimaksud adalah merdeka untuk kembali menjawab apa yang individu tanyakan secara sadar, mengenai konstruksi kesepakatan melalui atau dengan seni.


Selanjutnya, Alfina Fadilatul Mabruroh, Gunarhadi, dan Herry Widyastono memaparkan hasil kajiannya tentang pandemi Covid-19 yang mengubah penyelenggaraan pembelajaran di pendidikan nonformal Sanggar Anak Alam, Yogyakarta. Di masa pandemi Covid-19 proses belajar mempertahankan proyek riset per semester dengan proses pendampingan yang sedikit berbeda. Experiential learning dan model pembelajaran berbasis proyek tetap dipertahankan sebagai strategi pembelajaran supaya apa yang dipelajari peserta didik relevan dengan kehidupan nyata dan proyek risetnya mampu diaplikasikan untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari.


Berikutnya, Mikka Wildha Nurrochsyam dan Bambang H. Suta Purwana menyampaikan hasil kajiannya tentang pertunjukan boneka wayang Ggogdu Gagsi di Korea Selatan. Hasil kajian mereka menyatakan bahwa seni pertunjukan tersebut memperlihatkan  adanya pelangggaran prinsip keadilan dalam masyarakat karena adanya sistem feodalisme yang dilakukan oleh para penguasa kelas atas.


Yang terakhir, Faridhatun Nikmah, memaparkan hasil kajiannya mengenai pentingnya peranan Museum Glagah Wangi di Kabupaten Demak terhadap masyarakat karena dapat mengenalkan sejarah dan kebudayaan di daerah tersebut, khususnya pada masa Kerajaan Demak. Museum tersebut dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi, sumber informasi, dan wisata edukasi bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan.

Article Details