Main Article Content

Abstract

Tari Srimpi Pandhèlori merupakan tari klasik yang berasal dari Yogyakarta. Tari Srimpi Pandhèlori merupakan salah satu bentuk tari Srimpi yang cukup dikenal di kalangan masyarakat. Tari Srimpi Pandhèlori dari masa ke masa diduga mengalami perubahan kepemilikan. Tari ini diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VI, kemudian berkembang kembali di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono selanjutnya. Kondisi sosial dan politik dalam lingkungan keraton menyebabkan perubahan dalam tari Srimpi Pandhelori. Proses transit terjadi di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII hingga awal pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IX. Akhir pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IX adalah proses transisi tari Srimpi Pandhèlori. Permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana Tari Srimpi Pandhèlori bisa tetap eksis meskipun melewati berbagai ruang dan waktu? Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan perubahan-perubahan yang terjadi pada tari Srimpi Pandhelori. Penelitian menggunakan metode etnokoreologi, ditunjang dengan teori transit, transisi, dan transformasi yang dikemukakan oleh Svasek. Dari penelitian ini ditemukan bahwa proses transit, transisi, dan transformasi pada tari Srimpi Pandhèlori mengalami perubahan terutama dalam hal kepemilikan.


The Srimpi Pandhèlori Dance is a classic dance from Yogyakarta. It is one of the more well-known Srimpi dance to the public. The Srimpi Pandhèlori dance from time to time is thought to have changed ownership. It is first created in the reign of Sultan Hamengku Buwono VI. It, then developed again during the reign of the next Sultan Hamengkubuwono. The social and political conditions within the palace led to changes in Srimpi Pandhelori's dance. The transit process occurred during the reign of Sultan Hamengku Buwono VIII until the beginning of the reign of Sultan Hamengku Buwono IX. The end of the reign of Sultan Hamengkubuwono IX was the transition process for the Srimpi Pandhèlori dance. The problem raised in this paper is how the Srimpi Pandhèlori Dance continue to persevere through many various spaces and times? The aim of the research is to reveal the changes that occur in the Srimpi Pandhelori dance. This research uses ethnocoreological methods, supported by the theory of transit, transition, and transformation proposed by Svasek. It was found that through the process of transit, transition and transformation, the Srimpi Pandhèlori dance underwent changes, especially in terms of ownership.

Keywords

Pandhelori tari tari Srimpi Pandhèlori Yogyakarta Keraton Pandhelori dance the Srimpi Pandhelori dance Yogyakarta Keraton

Article Details

References

  1. Ahimsa-Putra, Heddy Shri. (2000). Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press.
  2. _______. (2007). Etnosains untuk Etnokoreologi Nusantara. dalam Etnokoreoogi Nusantara (Batasan Kajian, Sistematika, Dan Aplikasi Keilmuannya). Surakarta: ISI Press.
  3. Arifiana, Deny. 2011. Busana Tari Srimpi Renggawati pada Masa Sultan Hamengku Buwana VIII (1921-1939) dalam Konteks Ritual di Keraton Yogyakarta. Tesis Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
  4. Artanto, Mei. (2015). From Music Text to Performance: Studi Kasus Aransemen Musik Nyanyian Negeriku Karya Singgih Sanjaya. Tesis. Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
  5. Astuti, Budi. (1999). Karya Tari K.R.T. Sasmintadipura, dalam Rama Sas Pribadi, Idealisme, dan Tekadnya, Yogyakarta: Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa.
  6. Hadi, Y. Sumandiyo. (2007a). Kajian Tari Teks dan Konteks. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
  7. ________. (2007b). Pasang Surut Pelembagaan Tari Klasik Yogyakarta. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
  8. Hasrinuksmo, Bambang. (1988). Ensiklopedi Budaya Nasional Keris dan Senjata Tradisional Indonesia lainnya. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
  9. Hughes-Freeland, Felicia. (2008). Komunitas yang Mewujud Tari Tradisi dan Perubahan di Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  10. Kayam, Umar. (1991). Kebudayaan Nasional, Kebudayaan Baru. Dalam Kongres Kebudayaan 1991. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  11. Keraton Yogya Buka Lagi Kelas Tari Klasik. https://travel.tempo.co/read/464860/keraton-yogya-buka-lagi-kelas-tari-klasik/full&view=ok. diakses 3 Desember 2020
  12. Kusumaningrum, Harlina. (2015). Laporan Peneitian: Transkipsi Gendhing Pandhelori Pada Gamelan Kanjeng Kyai Madukusumo Ke Dalam Notasi Musik Diatonik. Yogyakarta: ISI Yogyakarta.
  13. Kuswarsantya. 2019. Beksan Lawung Ageng Karya Sri Sultan Hamengku Buwono I. Makalah, disampaikan pada Proceeding International Symposium on Javanese Study and Manuscripts of Keraton Yogyakarta, 2019.
  14. Lindsay, Jennifer, dkk. (1990). Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid: 2 Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Djambatan.
  15. Listiyani, Ugin. (1990). Studi Analisis Koreografis Serimpi Pandhelori Gaya Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: lnstitut Seni Indonesia Yogyakarta.
  16. Manuskrip. https://kbbi.web.id/manuskrip. Diakses 3 Desember 2020
  17. Misi-Kraton-Yogyakarta-Mengenalkan-Kebudayaan-Di-Abu-Dhabi. http://jogja.tribunnews.com/2018/02/10/misi-kraton-yogyakarta-mengenalkan-kebudayaan-di-abu-dhabi?page=1. diakses 19 Februari 2019.
  18. Pengetan Beksan Warna Warni Gadhahanipin Kridha Beksa Wirama, kode K. 149 / B/S 28, Perpustakaan Krida Mardawa Keraton Yogyakarta, 25-29
  19. Penyediaan dan Penyajian Informasi Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Tari Klasik Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pandidikan dan Kebudayaan.
  20. Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Djawa. Batavia: Uitgevers Maatschappij.
  21. Pramutomo, R.M. (2010). Tari, Seremoni, dan Politik Kolonial II. Surakarta: Institut Seni Indonesia Press.
  22. _______. (2019). Respon Estetis pada Teks Sastra Serat Menak sebagai Dasar Inovasi Penciptaan Tari Srimpi. Laporan Penelitian. Surakarta: Institut Seni Indonesia Surakarta.
  23. Prabowo, Wahyu Santoso, dkk. (2007). Sejarah Tari Jejak Langkah Tari di Pura Mangkunegaran. Surakarta: ISI Press.
  24. Pringgobroto, Sudharso. (1959). Perkembangan Methode Mengajar Seni Tari Jawa. Dalam R.M. Koentjaraningrat (ed.). Tari dan Kesusasteran. Buku Peringatan Ulang Tahun ke-VIII Indonesian Tunggal Irama. Yogyakarta: Pertjetakan Taman Siswa.
  25. Rahayu, Sri dan Yohanes Hanan Pamungkas. (2014). Arti Simbolis Paes Ageng Masa Hamengkubuwono IX Tahun 1940-1988. dalam Jurnal Avatra, e-journal Pendidikan Sejarah, Volume 2 No.3, Oktober 2014.
  26. Republik Indonesia. 2010. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Jakarta: Sekretariat Negara.
  27. Sedyawati, Edi. (2014). Mengembangkan Etnokoreologi dalam Rangka Kajian Wilayah Nusantara, dalam Kebudayaan di Nusantara dari Keris, Tor-tor sampai Industri Budaya, Depok: Komunitas Bambu.
  28. Serat Kandha Bedhaya Srimpi, Kode W.8 B/S 50, Koleksi Perpustakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta. (Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016.
  29. Serat Kandha Bedhaya Utawi Srimpi. Kode Koleksi K 138 / B/S 17. Yogyakarta: Perpustakaan Krida Mardawa, Keraton Yogyakarta.
  30. Simatupang, Lono. (2013). Pergelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.
  31. Soedarsono, R.M. (2000). Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
  32. _______. (2007). Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  33. Suharto, Decirius. (1988). Peranan Mardawa Budaya sebagai Wadah Pengembangan Tari Jawa Gaya Yogyakarta. Tugas Akhir. Yogyakarta: Balai Penelitian Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
  34. Srimpi Pandhelori https://www.kratonjogja.id/ kagungan-dalem/24/srimpi-pandhelori. . diakses 1 Januari 2020
  35. Sumarsam, (2003). Gamelan Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  36. Sunaryadi. (2013). Aksiologi Tari Bedhaya Kraton Yogyakarta. Jurnal Kawistara, Volume 3 No. 3, 22 Desember 2013. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.
  37. Supriyanti. (1997). Pengaruh Barat pada Tari Klasik di Keraton Yogyakarta. Tesis. Universitas Gadjah Mada.
  38. Svašek, Maruška. (2007). Anthropology, Art and Cultural Production. London: Pluto Press
  39. _______. (2012). “Affective Moves: Transit, Transition, and Transformation”, introduction dalam Moving Subjects, Moving Objects: Transnationalism, Cultural Production and Emotions, Maruška Svašek (ed). New York and Oxford: Berghahn Books.
  40. Tyas, Gita Purwaning. (2018). Nilai Pendidikan Karakter dalam Ragam Gerak Tari Srimpi Pandelori di Kawedanan Hageng Punakawan Kridha Mardhawa Kraton Yogyakarta. Tesis. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
  41. Wibowo, Anggono Kusumo. (2013). Dari Relief Candi Menuju Karya Tari: Sebuah Catatan Kreatif. Greget: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Tari. Vol. 12, No. 2 tahun 2013. Surakarta: Institus Seni Indonesia Surakarta.
  42. Wibowo, Fred, ed. 1981. Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Dewan Kesenian Yogyakarta.
  43. Widaryanto, F.X. (2019). Menyoal Ketubuhan dan Nilai Performatifnya. Dance and Theatre Review volume 2, November 2019. Yogyakarta: ISI Yogyakarta.