Main Article Content

Abstract

Jurnal Kebudayaan Volume 16, Nomor 1, tahun 2021 ini menyajikan enam artikel dari beberapa hasil penelitian, kajian, dan pemikiran. Topik budaya diangkat juga bervariasi, mulai dari kearifan lokal, budaya kontemporer, pendidikan karakter, tradisi, sejarah lokal, hingga kesenian. Adapun gambaran singkat dari artikel-artikel tersebut adalah sebagai berikut. Diawali dari artikel Doli Witro, Mhd. Rasidin, dan Ravico, yang memaparkan hasil penelitiannya tentang masyarakat petani di Desa Koto Padang, Kecamatan Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam aktivitas bersawah, mereka membuat mpouk, membuat ncaih, dan menyediakan na’a beneih.
Selanjutnya, Danuh Tyas Pradipta dan Kiki Rizky Soetisna Putri, memaparkan hasil kajiannya tentang pola perilaku para muda Bandung dalam memulai kariernya di bidang seni rupa, yang dipengaruhi oleh kondisi pasca-bum seni rupa pada sekitar tahun 2010. Kondisi pasca-bum tersebut menyebabkan terbentuknya komunalisme dan jejaring dalam beberapa modus pada pola perilaku para muda Bandung, seperti: pembentukan kelompok seni, penggunaan studio bersama, pemanfaatan ruang seni, serta sikap terbuka terhadap berbagai profesi dalam medan seni rupa.
Artikel berikutnya, Galih Istiningsih dan Dwitya Sobat Ady Dharma, memaparkan hasil pemikirannya mengenai bagaimana mengintegrasikan keteladanan karakter Pangeran Diponegoro ke dalam kurikulum di Sekolah Dasar, sebagai bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis kearifan lokal. Mereka menyampaikan bahwa karakter Pangeran Diponegoro relevan dengan profil pelajar Pancasila, yaitu kebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.
Berikutnya, Purwa Satria Ariadi, Rafi Prayoga Dhenanta, Dewi Nurul Islami, dan Bagas Caesar Suherlan menyampaikan hasil kajiannya terkait dengan kebijakan pembatasan sosial yang diambil pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. Kebijakan tersebut berdampak pada budaya sabilulungan, yang merupakan budaya gotong royong pada masyarakat Jawa Barat. Mereka menyampaikan bahwa kebijakan pembatasan sosial tersebut memang menyebabkan menurunnya pelaksanaan sabilulungan, tradisi gotong royong, namun justru menghadirkan bentuk-bentuk kegiatan gotong-royong yang baru di masyarakat.
Penulis berikutnya, Rahmat Muhidin dan Ratu Wardarita menyampaikan kajian toponimi daratan tentang hal-hal yang melatarbelakangi pemberian nama-nama desa di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Nama-nama desa tersebut mengacu pada sumber daya alam di daratan maupun sumber daya maritim. Di samping itu juga mengacu pada kata-kata yang bermakna harapan.
Yang terakhir, Sulistiani, memaparkan hasil kajiannya mengenai Tari Srimpi Pandhèlori dari Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI dan terus berlanjut hingga akhir masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tari tersebut mengalami perubahan dari masa ke masa, karena proses transit, transisi, dan transformasi, terutama yang disebabkan oleh faktor kepemilikannya.

Article Details