Main Article Content

Abstract

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan pendidikan karakter, guna mendapatkan opsi kebijakan tentang strategi pendidikan karakter di sekolah. Metode penelitian menggunakan survei, menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis data menggunakan statistik deskriptif. Penelitian dilaksanakan di 10 kab/kota dengan sampel 40 SMA dan 40 SMK. Responden adalah kepala dinas pendidikan 10 orang, kepala sekolah 80 orang, guru 320 orang, dan siswa 800 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi kebijakan pemerintah daerah sebagian besar belum menerbitkan peraturan daerah yang terkait dengan pendidikan karakter. Sementara pada tingkat sekolah, kebijakan pelaksanaan pendidikan karakter umumnya dilaksanakan mengacu pada visi dan misi sekolah, sebagian besar sekolah mengintegrasikan dalam pembelajaran, pembiasaan, dan pembudayaan. Pelaksanaan pembiasaan dan pembudayaan yang dilakukan oleh guru masih belum konsisten, dan belum dievaluasi secara periodik. Direkomendasikan perlu adanya penguatan dan pembudayaan secara konsisten pelaksanaan pendidikan karakter dengan mengacu pada praktik sekolah terbaik dan meminimalkan hambatan pelaksanaannya.

 

Abstract

This study aimed to obtain information on the implementation of character education in academic and vocational high school in order to develop strategic policy options on character education in schools. The method used was survey, descriptive qualitative approach and data analysis using descriptive statistics. The research was conducted in 10 districts/cities with a sample of 80 schools (40 academic schools and 40 vocational schools). Respondents involved were 10 district head of education offices, 80 principals, 320 teachers, and 800 students. The results showed that in terms of policy, most regional government had yet to issue local regulations related to character education. While at the school level, policy implementation was generally implemented in reference to the vision and mission of the school. The vast majority of schools integrated learning, habituation, and familiarization. Implementation of habituation and familiarization done by teachers were still inconsistent, and had not been evaluated periodically. One of policy recommendation is the need to strengthen and develop a consistent implementation of character education referencing to the best practices and to minimize obstacles in implementation.

 

 

Keywords

Character education character education policy Secondary Education (high school and vocational). Pendidikan karakter kebijakan pendidikan karakter Pendidikan Menengah (SMA dan SMK).

Article Details

References

  1. Andika, Prabowo, 2014. Dua Puluh Dua Persen Pengguna Narkoba adalah Pelajar. http://nasional.sindonews.com/read/2013/08/21/15/773842/, diakses tanggal 17 Februari.
  2. Daryanto, 2013. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta, Gava Media.
  3. Gunawan, Heri. 2012. Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta.
  4. Hermawan, Erwan, 2014. Tawuran Sekolah Jakarta Naik 44 persen. https://m.tempo.co/read/news/ 2013/11/20/083531130 diakses tanggal 17 Februari.
  5. Husaini, Adian. 2010. Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Disampaikan dalam Seminar Pendidikan Karakter di UPI, Bandung, 28 Juli 2010.
  6. Jonaidi. 2013. Analisis Sosiologis Terhadap Perilaku Menyimpang Siswa Pada SMA Pembangunan Kabupaten Malinau. E-Journal Sosiatri-Sosiologi Volume 1, Nomor 3.
  7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2010. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2010-2014. Jakarta.
  8. Kementerian Pendidikan Nasional, 2010a. Bahan Pelatihan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Pusat Kurikulum. Jakarta.
  9. Kementerian Pendidikan Nasional, 2010b. Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter. Jakarta.
  10. Kusuma, Doni, 2007. Pendidikan Karakter Strategi Mendididk Anak di Zaman Global, Jakarta. Gramedia Widiasarana Indonesia.
  11. Libertus Jehani dan Antoro dkk, 2006. Mencegah Terjerumus Narkoba, Visimedia. Jakarta.
  12. Lickona, Thomas. 2010. Educating for Character (Mendidik untuk Membentuk Karakter) terjemahan Juma Abdu Wamaungo. Jakarta, Bumi Aksara.
  13. Lickona, Thomas. 2012. Character Matter (Persoalan Karakter) terjemahan Juma Abdu Wamaungo, Jakarta, Bumi Aksara.
  14. Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter; Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.
  15. Megawangi, Ratna. 2009. Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk membangun Bangsa, Jakarta. Indonesia Heritage Foundation.
  16. Nugroho, Hery. 2012. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 3 Semarang. Tesis. Semarang: Program Magister (S2) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang.
  17. Republik Indonesia. 2010. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025. Jakarta.
  18. Republik Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.
  19. Republik Indonesia. 1945. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta.
  20. Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
  21. Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Jakarta.
  22. Republik Indonesia. 2005. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Jakarta.
  23. Rohmah, Dewi, 2012. Implementasi pendidikan karakter pada Proses Pembelajaran Kelas X SMA Negeri 1 Welahan Kabupaten Jepara. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
  24. Suyanto, 2010. Urgensi Pendidikan Karakter. http://waskitamandiribk.wordpress.com. Diunduh pada 26 April 2014.
  25. Yaumi, Muhammad. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa melalui Transdisiplinaritas. http://www.bharatbhasha.com/education.php/208471. Diunduh pada 25 April 2014.